Indonesian Automotive Community

Please login or register.

Login with username, password and session length
Advanced search  

News:

Daftarkan diri Anda terlebih dahulu sebelum posting ke forum.

Pages: [1]   Go Down

Author Topic: PERMATABANK Di Ambang Kehancuran  (Read 6117 times)

indoro1ds

  • Penumpang Bis
  • *
  • Reputation: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 9
  • mbahmar1jan@yahoo.com
PERMATABANK Di Ambang Kehancuran
« on: November 01, 2008, 02:28:21 PM »

  
Logged

indoro1ds

  • Penumpang Bis
  • *
  • Reputation: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 9
  • mbahmar1jan@yahoo.com
Re: PERMATABANK Di Ambang Kehancuran
« Reply #1 on: November 01, 2008, 02:29:04 PM »

Contoh akal-akalan untuk menciptakan pre-condition pengurangan karyawan ada-lah mekanisme Redeployment dengan kedok alasan mulia untuk menempatkan karyawan ke posisi yang lebih cocok se-hingga bisa lebih berprestasi.   Karyawan yang akan di-redeploy diambil dari tempat kerjanya, dimasukkan ke pool (kandang) di HR, kemudian ditawar-tawarkan kepada unit kerja yang membutuhkan. Bagai-mana kalau tidak ada yang membutuh-kannya?   
 
Apakah kita akan aman dari PHK?   Ter-gantung, apakah kita termasuk target atau bukan. Yang pasti setiap keberhasilan mengurangi jumlah karyawan (seperti yang dilakukan di cabang-cabang oleh Shared Distribution dan Treasury)  meru-pakan kesuksesan yang pantas ditonjolkan terkait misi cost saving tadi. Yang lebih pasti lagi adalah action plan dari Strategic Inisiative di bidang sumber daya manusia, yaitu mengurangi jumlah karyawan out-source maupun tetap secara konsisten setiap bulan.  Pada bulan Januari 2005 jumlah karyawan tetap PermataBank ada-lah 7.005 orang.   Setiap bulan sudah diren-canakan pengurangan rata-rata sebanyak 70 orang (jumlahnya fluktuatif antara 12 – 120 orang per bulan), sehingga per Desember 2005 karyawan tetap Permata Bank menjadi berjumlah 6.200-an orang.   Total karyawan tetap yang dibuang ada-lah 740-an orang.  Di sisi karyawan kon-trak, jumlahnya akan disusutkan dari 2.800-an orang menjadi hanya 530-an orang. Berapa banyak biaya yang bisa dihemat, kita bicarakan nanti sajalah.   Per-hatikan dulu, PHK karyawan sudah di pelupuk mata!
 
 
Soal Isi Kantong
Kembali lagi ke biaya tinggi SCB.   Harap diketahui bahwa biaya yang terkait SCB itu sangat besar.  Mari kita lihat gaji take home pay bulanan beberapa karyawan asal SCB.  Ada seorang ibu yang bergaji Rp 112 juta.  Seorang India yang ahli keuangan bergaji Rp 202 juta, sementara seorang bule yang menguasai Risk Management mengantongi Rp 107 juta.   Seorang bule pindahan dari SCB Jakarta membawa pulang Rp 137 juta, sementara koleganya asal India yang ahli di bidang kredit bergaji lebih besar, yaitu Rp 158 juta.  Sebagai perbandingan, gaji direktur lokal PermataBank tidak sampai menembus angka Rp 100 juta.   Total biaya (gaji saja) untuk 29 orang karyawan SCB atau rekrutan SCB adalah lebih dari Rp 2.5 Milyar.   Belum lagi biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk meng-cover deal-deal tertentu pada saat mereka direkrut, misalnya sewa rumah/apartemen, sewa mobil, tunjangan keluarga, ongkos bolak-balik Jakarta-Singapore atau Jakarta-London dan sebagainya. Ada karyawan rekrutan SCB yang belum genap 6 bulan bekerja di PermataBank sudah bisa men-dapatkan loan karyawan sebesar Rp 100 juta! Ayo, cobalah menghitung kalau mereka memperoleh bonus 10 kali gaji!   
 
Betapa nikmatnya menjadi orang SCB.   Kabar terbaru, seorang Sekretaris Direktur menyuruh seorang driver PermataBank (tentu saja atas perintah sang Direktur) untuk menjemput pejabat SCB asal Korea dengan mobil PermataBank dari Bandara  Soekarno Hatta ke tempat tujuan.  Di ma-nakah tempat tujuan itu?  PermataBank?   Bukan!  Tetapi ke kantor SCB, rumah makan dan rumah pijat sauna (plus) di bilangan Fatmawati! Asik sekali.  Dia dilayani habis-habisan dengan fasilitas dari PermataBank tapi tidak sedikit pun urus-annya berkaitan dengan bisnis Permata Bank.
 
Kemana Astra ?
Mengapa selalu SCB, lalu kemana Astra International yang merupakan bagian dari konsorsium dan memiliki saham yang sama dengan SCB ? Jawabannya adalah Astra dipasang hanya untuk melancarkan proses divestasi dan "bemper" jika ada penolakan dari karyawan.  Walaupun ada Direksi Sumber Daya Manusia dari Astra, namun semua kebijakannya selalu dikontrol oleh SCB, buktinya SCB menaruh orangnya dari Malaysia untuk mengurusi kepersonaliaan yang disiasati dengan menaruhkan strukturnya di bawah Direktur Finance, padahal jelas-jelas policy ketenaga kerjaan di Indonesia melarang seorang TKA untuk mengurusi kepersonaliaan.  Bukti lagi, ketika Board Of Director PermataBank harus presentasi ke SCB Singapore urusan sumber daya manusia dilakukan bukan oleh Direksi Sumber Daya Manusia tersebut ! Astra kali ini harus bereaksi karena jelas-jelas bisnisnya yang bermitra dengan PermataBank (Otomotif) sudah menurun karena tidak dipandang oleh SCB, bahkan akan dikurangi ! Ayo Astra, Anda Bisa !
 
Jadi, apakah SCB mendatangkan keuntungan bagi PermataBank?  Sama sekali tidak!   Apakah yang akan kita lakukan?  Merenunglah dahulu. Yang jelas, kita harus kompak dan bersatu padu menyudahi ketidakadilan dan ketidak-setaraan ini.
 
Untuk para pejabat negara silahkan periksa proses divestasi PermataBank, disana akan ditemukan terlibatnya beberapa anggota dewan yang di service ke London (Suami Istri) untuk membantu meng-Gol-kan SCB, serta perlakuan istimewanya SCB ketika proses Due Dilligen dilakukan dapat dilihat dari jumlah personil dan fasilitas-fasilitas, divestasi PermataBank yang ke-2 tidak menjadi prioritas SCB, menunggu pemeriksaan KPK ke PPA selesai, mungkin ada ketakutan permainan kotornya pada divestasi pertama diketahui.
 
Kepada aktivis Mahasiswa dan Organisasi Kerakyatan seperti Partai Rakyat Demokratik, BEM se-Indonesia, FORKOT, FKSMJ, FAMRED, LMND serta aktivis Organisasi Islam  seperti Front Pembela Islam, FBR, Partai Keadilan, Hizbuttahir, anda bisa lihat dari sisi nasionalisme dan kapitalisme, jangan sampai negeri ini menjadi sapi perah kaum kapitalis.
 
Jika diantara anda ada yang menginginkan bukti-bukti apa yang telah dijabarkan disini, silahkan reply dan sebutkan ke alamat mana harus dikirim semua dokumen tersebut, pastikan anda tidak melewatkan info-info selanjutnya pada edisi selanjutnya    [mimin ]




 
SCB DAN BCA:
MUSANG BERBULU DOMBA
 
 
Bulan Maret yang lalu perusahaan-perusahaan publik membeberkan laporan keuangan mereka di koran.   Bacalah Bisnis Indonesia edisi Rabu/29 Maret 2006 halaman B3.   Di situ ada Laporan Keuangan Konsolidasi PermataBank.  Bagi yang tertarik menganalisis Neraca dan Laporan Laba Rugi, silakan mempelajarinya secara rinci sambil memencet-mencet tombol kalkulator untuk memastikan bahwa kinerja keuangan PermataBank tahun 2005 menurun kalau dibandingkan dengan   kinerja tahun 2004! 
 
Menurun?  Ya!  Jangan cepat terbuai dengan klaim Dirut PermataBank Steward Hall tentang pertumbuhan kredit, kenaikan Net Interest Income atau lonjakan pendapatan operasional.   Sebelum menelusuri terlalu banyak angka, lihat saja dulu PENURUNAN yang drastis dari Profit, Return on Equity (ROE) dan Laba Bersih per   Saham.  Ini sudah cukup untuk menunjukkan adanya penurunan kinerja.
 
Kalau Anda ingin meneliti penyebab memburuknya financial performance PermataBank, jangan bingung-bingung mau berangkat dari mana.   Siapa lagi biang keladinya kalau bukan manajemen asal SCB dan para rekrutannya.   Di bawah pengelolaan mereka, Bank Permata ibarat turun derajatnya menjadi bank gundu.  Permata itu batu mulia sementara gundu cuma mainan dari kaca.
 
 
Laba Anjlok dan Biaya Bengkak
Sekarang mari kita lihat saja Laporan Laba Rugi.   Cukup dilihat bank-nya saja, tidak usah konsolidasi. Laba rugi ( profitability) merupakan indikator yang paling mudah untuk melihat keberhasilan bank mengelola asset dan mengembangkan usaha.  Sederhana saja, bank yang untung itu sehat, yang rugi penyakitan.   Kalau tahun lalu bank untung besar tetapi tahun ini keuntungannya merosot tajam, bisa diduga ada yang tidak beres di dalam bank itu.   
 
Laba bersih Permata Bank tahun 2005 anjlok 53% dibandingkan dengan laba tahun 2004,   dari Rp 622,72 Miliar menjadi Rp 295 Miliar.   Menurut keterangan Steward penurunan tersebut terjadi akibat kerugian mark-to-market nilai Obligasi Pemerintah, pembayaran pajak yang lebih tinggi dan kewajiban menyediakan pencadangan bagi kredit bermasalah.   
 
Memang gampang mencari kambing hitam.   Seolah-olah hanya 3 hal tadilah yang menyebabkan melorotnya laba PermataBank.  Kerugian mark-to-market "hanya" menyumbangkan beban sebesar Rp 57,6 Miliar.    Sementara total beban pajak "hanya" Rp 94,9 Milyar dan Beban Penghapusan Aktiva Produktifnya "cuma" Rp 57,5 Miliar.   Hanya itu yang diangkat ke permukaan.   Padahal masih ada yang lebih menyolok mata, yaitu Biaya Administrasi/Umum sebesar Rp 655 Miliar dan Biaya Personalia sebesar Rp 656,5 Miliar!  Dibandingkan dengan nilainya pada akhir tahun 2004, Biaya Administrasi/Umum MELONJAK Rp 177.7 Milyar (27%) dan Biaya Personalia MEMBENGKAK Rp 162,5 Milyar (25%)! 
 
Pertanyaan yang mendasar adalah: Mengapa ketika sudah dilakukan cost cutting habis-habisan, biaya masih tetap tinggi juga? Hal ini pantas menimbulkan keheranan.    Beberapa karyawan dari sebuah ex legacy bank bercerita bahwa mereka sudah sangat kenyang dengan program-program pengiritan, tetapi hasilnya positif.  Bisa dilihat di dalam laporan keuangan bahwa rasio Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) bisa diturunkan dari tahun ke tahun.   Tetapi sekarang?  Banyak training dihentikan, ratusan karyawan outsources disudahi kontraknya sebelum jatuh waktu, promosi/iklan sangat dibatasi, mobil dinas diganti  dengan shuttle supaya bisa ditumpangi berombongan, outing karyawan distop kok biaya operasional malah menjadi lebih tinggi dibandingkan tahun lalu? 
 
"Sial dah, alamat ga bakalan terima bonus ato naik gaji nih", keluh seorang karyawan setengah mengumpat.   "Balik lagi ke jaman susah dong.  Sudah enak-enak bank ini dipegang Pak Agus, tiap tahun dapet bonus;  Giliran dipegang bule kok malah jadi ancur gini!", karyawan lain menimpali seraya bersungut-sungut.
 
Keheranan tentang berbanding terbaliknya penghematan dengan penurunan biaya akan terjawab jika kita mempelajari Business Cooperation Agreement (BCA) antara SCB dengan PermataBank.  Perjanjian berkedok sinergi tersebut cenderung berat sebelah karena pada prakteknya terlalu menguntungkan SCB.
 
Jika dibaca sekilas, BCA mengatur dijalankannya transaksi-transaksi tertentu untuk keuntungan kedua belah pihak.   Tetapi sebenarnya isi BCA sudah diatur sedemikian rupa sehingga banyak memberikan ruang bagi SCB untuk memanfaatkan PermataBank.  Paling tidak, pengkondisiannya tercermin di dalam jenis-jenis transaksi yang diperjanjikan untuk dilaksanakan oleh kedua belah pihak.   Kebanyakan dari transaksi-transaksi tersebut lebih demi keuntungan SCB! (Bacalah artikel sebelumnya "Bersama Kita Celaka". Min).  Karena PermataBank dikuasai oleh SCB, maka BCA tak lebih daripada sebuah perjanjian antara SCB dengan "SCB".   Tentu saja lebih menguntungkan SCB!
 
 
Perjanjian Kerjasama atau pemerasan?
Hal yang paling keterlaluan adalah diposisikannya PermataBank sebagai pihak yang membayar lebih banyak apabila terdapat biaya-biaya terkait transaksi.   Hal ini diatur secara lebih terinci di dalam perjanjian-perjanjian pelaksanaan transaksi.  Sebagai contoh, cobalah membaca Perjanjian Kerja Sama mengenai Manhattan Card.   Dari situ Anda akan mengetahui kalau PermataBank menjadi bulan-bulanan SCB!   Kendati di dalam BCA terdapat klausula bahwa pihak yang tidak sepakat dengan biaya transaksi (diistilahkan dengan "Nilai Pasar Wajar) berhak meminta pendapat dari penilai harga independen, kecil kemungkinan PermataBank akan memanfaatkan hak ini.   Kenapa?  Karena PermataBank sudah menjadi "Permata SCB".  PermataBank sudah dikuasai oleh SCB dan terkonsolidasi ke SCB!  Mana berani Direktur Utama PermataBank yang berasal dari SCB menolak permintaan SCB.   
 
Dalam hal transaksi bersifat asistensi, PermataBank lah yang diharuskan berguru kepada SCB.  Apakah akan berlaku sebaliknya, SCB meminta asistensi kepada PermataBank?  Tidak.   Karena sejak awal SCB sudah menyatakan diri sebagai bank berskala internasional, sehingga merasa berhak mengajari PermataBank dengan international best practice supaya lebih gaul di pasar global.  Hal ini sejalan dengan pernyataan Steward Hall dalam banyak kesempatan pertemuan dengan karyawan bahwa SCB akan membantu PermataBank meningkatkan benefit sehingga bisa menjadi bank dengan jaringan global.   
 
Keterlaluan!  PermataBank dianggap inferior oleh SCB hanya gara-gara berskala operasi nasional.  Padahal PermataBank adalah bank yang terpandang di Indonesia dengan prestasi dan keunggulan yang sudah terbukti.   Bahkan dalam banyak hal justru lebih unggul daripada SCB sendiri.  Lantas, apakah SCB tidak mau belajar dari PermataBank?  Sebetulnya SCB sudah belajar dari PermataBank, tetapi dengan cara mencuri-curi!   Pada saat Tim SCB melalukan Peer Review, mereka mencatat praktik-praktik operasional a la PermataBank yang dapat diterapkan di SCB.  Berkedok sedang melakukan review, SCB sebenarnya sudah menangguk ilmu dari PermataBank tanpa harus membayar biaya asistensi.   Justru PermataBanklah yang mengongkosi SCB!
 
 
Pemalakan
Biaya-biaya tinggi yang timbul selama pengelolaan PermataBank oleh SCB sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan BCA.  Marilah kita lihat contoh-contohnya.
 
Manhattan Card .  SCB mempunyai produk Manhattan Card yang ditargetkan untuk ratusan ribu calon pemegang kartu redit.   Karena jumlah nasabah PermataBank jauh lebih banyak daripada nasabah SCB Indonesia dan distribution channel PermataBank sangat luas, SCB mengalihkan launching dan marketing Manhattan Card ke PermataBank.   
 
Apa yang diperoleh PermataBank dari bisnis ini? Tiada lain kecuali kerugian!   Pertama, PermataBank dipaksa memasarkan kartu kredit yang bukan produknya sendiri dan di pasar akan menjadi pesaing bagi produk PermataBank Visa dan Master Card.   Kedua, meskipun ikut memperoleh bagian dari annual fee dan interest income, PermataBank harus membayar ratusan juta Dollar joint fee atas keikutsertaannya mendagangkan Manhattan Card.   Ketiga, peluncuran Manhattan Card dengan acara yang gebyar-gebyar menelan biaya milyaran Rupiah ditanggung oleh PermataBank.   Keempat, bisnis Manhattan Card ternyata gagal menarik minat nasabah alias tidak laku sehingga berhenti dipasarkan;   Alih-alih menangguk laba, PermataBank malah menanggung rugi karena "belum balik modal".   Belum lagi soal reputasi PermataBank karena memasarkan produk gagal.  Kelima, semua aktivitas dalam rangka memasarkan Manhattan Card mendompleng infrastruktur dan tenaga kerja PermataBank, tentu plus duitnya pula.  Ratusan tenaga kerja outsource direkrut khusus untuk urusan Manhattan Card ini.   Keenam, SCB masih meminta jatah fee dari nilai account payable   padahal  sudah mujur produknya dipasarkan oleh PermataBank. Ketujuh, kalau penjualan Manhattan Card sampai gagal, SCB akan melego hak franchise yang semula dipegang oleh PermataBank kepada pihak lain (jangan-jangan PermataBank juga harus membayar denda!).   Lihat, betapa SCB selalu bisa mencari untung, sementara PermataBank yang kebagian buntung!
 
Joint Audit .   Beralasan untuk membangun sinergi, SCB getol membuat kegiatan yang bernama joint ini atau joint itu, misalnya Joint Audit.  Tentang Joint Audit, belum lama ini sekelompok auditor dari SCB datang ke PermataBank.   Bersama dengan auditor intern mereka melakukan pemeriksaan secara menyeluruh ke unit-unit kerja dan menghasilkan banyak temuan.   Yang keterlaluan, temuan-temuan tersebut tidak merujuk kepada peraturan Bank Indonesia atau kebijakan/prosedur PermataBank, tetapi kepada kebiasaan yang dilakukan oleh SCB!  Lebih keterlaluan lagi, para Direktur dan General Manager dikejar-kejar deadline untuk menindaklanjuti rekomendasi atas temuan tersebut.  Alhasil para GM bahkan Direktur menjadi kelabakan sendiri, seolah-olah mereka itu memang melakukan kesalahan karena tidak menuruti aturan SCB.   Padahal mereka sama sekali tidak melanggar ketentuan internal maupun peraturan BI!    Ini namanya imperialisme gaya baru.  SCB sudah menerabas teritori.   Ingat, Permatabank dan SCB adalah 2 entitas yang berdiri sendiri-sendiri.   
 
Pada kegiatan Joint Audit tempo hari, auditor PermataBank lebih berperan sebagai pendamping dan Auditor SCB lah yang mendominasi.   Pada akhir acara, Rp 120-an juta ditagih oleh SCB ke PermataBank untuk ongkos akomodasi dan transportasi.  Jangan heran, karena semuanya sudah diatur di dalam BCA!   Lantas kapan auditor PermataBank bisa gantian mengaudit SCB?  Kata Koes Plus, "Kapan ... Kapan ..."
 
Menyusul Joint Audit akan ada lebih banyak lagi bentuk-bentuk kegiatan bersama untuk kepentingan SCB tetapi dibayar oleh PermataBank; misalnya Joint Operation (menggunakan CBO PermataBank untuk menangani transaksi milik cabang SCB di Indonesia), Treasury Online (menghubungkan sistem di Dealing Room PermataBank dengan SCB), Joint Credit Operation (mengkombinasikan credit operation PermataBank dan SCB), Joint Card Production (meng-outsource-kan pembuatan credit card SCB ke PermataBank), ATM Direct Connection (menyambungkan ATM SCB di Singapore dan ATM Permatabank sehingga transaksi di-route secara langsung ke PermataBank bukan melalui Visa!) dan masih banyak lagi.   Timbang-timbanglah sendiri untung ruginya.
 
Peer Review.  SCB menganggap dirinya bank yang sarat keunggulan karena pengalamannya selama ratusan tahun sebagai bank tingkat internasional.   Oleh karena itu, SCB merasa diri perlu menaikkan derajat PermataBank yang selama puluhan tahun cuma berkutat di pasar domestik.   Caranya adalah dengan melakukan review atau technical assistance.  Seolah-olah PermataBank ini adalah bank yang terbelakang sehingga para karyawannya harus diajari banyak hal supaya bisa lebih maju.   Padahal, kembali ke Laporan Keuangan 2005, secara kasat mata bisa dilihat bahwa pengelolaan oleh SCB justru menghasilkan kemerosotan.
 
Banyak unit kerja yang sudah di- review oleh tim dari SCB.  Sebut saja CBO, Trade Finance, Treasury, Treasury & International Operation, Corporate Legal, IT dan Human Resources.   Dalam acara review, tim SCB memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk perbaikan.   Namanya rekomendasi, seharusnya bisa dituruti bisa juga dikesampingkan.   Yang dapat dijalankan tak ada salahnya diterapkan, sementara yang mengada-ada diabaikan saja. Nyatanya, semua rekomendasi seperti bersifat paksaan, sehingga mau tidak mau harus dilaksanakan.   Bisa dimengerti, karena jika tidak dilaksanakan maka SCB akan sulit mengintegrasikan "cara main" SCB ke sistem PermataBank.  Ini adalah embrio merger atau akuisisi, sejalan dengan sangat bernafsunya SCB meraup semua saham PermataBank yang saat ini masih dimiliki oleh Pemerintah Indonesia.   Jadi perlu diwaspadai! 
 
Seperti halnya Joint Audit , kegiatan review juga bukan gratisan.  Sebagaimana diatur di dalam BCA, setelah "dibikin pintar" PermataBank harus membayar semua ongkos hotel, makan siang malam dan transportasi para konsultan.   "Siapa sih yang nyuruh mereka datang kemari.  Kita kan gak ngundang?  Tanpa mereka ajaripun, kita gak ada masalah kok.  Enak aja mereka tiba-tiba datang, tahunya minta bayaran!" keluh seorang karyawan yang kesal.   Benar.  Soal kedatangan tim SCB itu tidak ada unit kerja atau GM yang mengundang.   Tetapi apa daya.  Dengan BCA, apapun bisa dilakukan oleh SCB.   Bisa diduga bahwa yang merestui kedatangan tim SCB adalah Direktur Utama PermataBank yang mantan CEO SCB Jakarta itu.
 
 
Logged

Grecco95

  • Penumpang Bis
  • *
  • Reputation: 0
  • Offline Offline
  • Posts: 4
Re: PERMATABANK Di Ambang Kehancuran
« Reply #2 on: December 05, 2008, 08:37:02 AM »

Kebetulan nubie nasabah Permata Bank..
Selama ini merasa nyaman karena beberapa kelebihan dibanding bank besar lainnya seperti Bank Mandiri dan BCA.
kenapa nubie milih Permata bank?
1. Tidak terlalu rame tetapi ada disetiap kota, sehingga nasabahnya tidak terlalu banyak. Saat kita memerlukan datang ke bank Permata, rasanya nyaman dan cepat karena tidak terlalu antri.
2. Link ATM Permata justru lebih luas dari bank-bank besar. Contoh : Dari permata bisa link dengan BCA, bank mandiri, dan bank-bank besar lainnya. Hal ini sangat membantu ketika harus transfer dsb ke bank2 lain. Ya meskipun kita dikenakan biaya tambahan.

hal tersebut membuat nubie betah jadi nasabah di bank permata.

Dengan kondisi TS sebutkan tadi gimana ya? Apakah ada pengaruh buat nasabah?



Logged
Pages: [1]   Go Up