Indonesian Automotive Community

Please login or register.

Login with username, password and session length
Advanced search  

News:

Daftarkan diri Anda terlebih dahulu sebelum posting ke forum.

Pages: [1]   Go Down

Author Topic: Krisis Harga, Pedagang Gorengan Memilih Bunuh Diri  (Read 2652 times)

indoroids

  • Guest
Krisis Harga, Pedagang Gorengan Memilih Bunuh Diri
« on: January 18, 2008, 05:35:40 PM »

From: Haryono <hary-n@centrin.net.id>
Sent: Wednesday, 16 January, 2008 11:32:32 AM
Subject: Krisis Harga- Pedagang Gorengan Memilih Bunuh Diri

Ketahuan deh sifat asli rezim SBY-JK, udah tahu bentar lagi pemilu 2009, gak mo kerja lagi, rakyat di biarin, mungkin mrasa gak bakal kepilih lagi kale. Tahun 2008 politisi lebih suka sibuk tebar pesona politik buat pemilu 2009 ketimbang ngurusin rakyat. Komentar mreka ampe skarang adem ayem aja, tapi giliran dana subsidi DPR di ungkit ungkit, suara parpol kenceng banget, takut duit nya di balikin ke kas negara, kayak ada yg ngatur. tapi klo urusan rakyat, boro2x dah. No money? Kelaut aje, gitu kali pikiran mreka.

Menyedihkan sekali deh.. :-<-*

*Rabu, 16 Januari 2008 *

Krisis Harga, Pedagang Gorengan Memilih Bunuh Diri

Beberapa ibu rumah tangga sibuk menata kue di rumah Nuriah
(40) di Kampung Cidemang, Kelurahan Pandeglang, Kabupaten
Pandeglang, Banten, Selasa (15/1) siang.
Ibu-ibu itu menyiapkan makanan untuk acara doa bersama berkait
meninggalnya Slamet (45), suami Nuriah.

Sehari sebelumnya, suami Nuriah nekat gantung diri hingga
tewas di sebuah kamar kosong di rumahnya.
Jasad Slamet pertama kali ditemukan oleh istrinya yang baru
pulang dari berbelanja di Pasar Badak, Pandeglang.
Tubuh ayah empat anak itu sudah menggantung di tengah kamar,
dengan seutas tali plastik melilit di lehernya.

Sehari-hari Slamet bekerja sebagai pedagang gorengan di Pasar
Badak, tepatnya di tepi Jalan Raya A Yani.
Belakangan ini, kata istrinya, pendapatannya semakin menurun.

Slamet tambah tertekan saat minyak tanah sulit didapat dan
harganya melambung.
Apalagi kenaikan harga minyak tanah bersamaan dengan
melonjaknya harga sejumlah bahan pangan, seperti tepung terigu,
tepung tapioka, tahu, tempe, sayuran, dan minyak goreng.

Empat hari sebelum meninggal, Slamet pernah mengeluh kepada
beberapa wartawan yang datang untuk menanyakan dampak
kelangkaan minyak tanah dan kenaikan harga.
Ia mengatakan terpaksa membeli minyak tanah dengan harga
Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per liter.

Setiap pagi sebelum berjualan, ia mengambil 2-3 liter minyak
tanah di warung milik Enjen.
Slamet baru membayar minyak tanah pada malam hari, sepulang
berjualan.
Namun, menurut Enjen, beberapa waktu terakhir Slamet memang
mulai kesulitan membayar minyak tanah.

Kondisi itu membuat Slamet merasa berat untuk melanjutkan
usaha berdagang gorengan.
Keluhan serupa juga pernah disampaikan Slamet kepada Ustadz
Nurdin, tokoh masyarakat setempat.

Nurdin menceritakan, sebelum Slamet bunuh diri, ia pernah
mengeluh selalu merugi.
"Modal yang dikeluarkan Rp 50.000 sehari, tetapi pendapatannya
cuma Rp 35.000," katanya.

Bisa jadi beban pedagang gorengan itu bertambah berat karena
semua harga bahan baku gorengan melonjak.
Saat ini harga minyak goreng di Pasar Badak mencapai Rp 11.500
per kilogram, harga tepung terigu menjadi Rp 7.000 per
kilogram, dan harga tepung tapioka Rp 3.800 per kilogram.



Harga bahan baku gorengan lain, seperti tahu dan tempe, juga
naik, bahkan sulit didapat kan akibat harga kacang kedelai
melonjak di pasaran.

Di Pasar Badak, tempat Slamet biasa berbelanja bahan baku,
tahu berukuran sedang yang sebelumnya dijual Rp 500 sekarang
menjadi Rp 750 per potong.
Begitu pula harga tempe berbagai ukuran, naik rata-rata Rp 500
dari harga sebelumnya.

Dugaan bahwa Slamet bunuh diri karena tekanan ekonomi
diperkuat hasil visum di Rumah Sakit Umum Daerah Pandeglang.
"Tidak ditemukan adanya bekas kekerasan fisik sehingga kasus
itu murni merupakan bunuh diri. Besar kemungkinan penyebabnya
adalah tekanan ekonomi," ujar Kepala Kepolisian Resor
Pandeglang Ajun Komisaris Besar Mamat Surahmat.

Slamet bukan satu-satunya warga masyarakat yang menjadikan
gorengan sebagai tumpuan hidup sehari-hari.
Ada ribuan warga yang berharap bisa melanjutkan hidup dengan
berdagang gorengan.
Namun, jika harga bahan baku terus melonjak, apakah tidak
mungkin ada warga lain yang menjadi senekat Slamet: memilih
bunuh diri karena putus asa melihat harga bahan pangan yang
semakin tak terjangkau.

*Warteg juga terancam*

Di Jakarta, kemarin, sejumlah warung nasi, terutama warung
tegal (warteg), diwarnai kekesalan pelanggan yang kehilangan
lauk kesayangan mereka, orek (irisan kecil tempe goreng
berbumbu yang dipotong memanjang, bercampur sedikit irisan
cabai merah).

Di lingkungan penggila warteg, orek memang hampir identik
dengan warteg.
Di samping murah meriah, cuma Rp 1.000-Rp 1.500, sebagai
pendamping nasi, orek memang enak.

"Saya sudah 35 tahun jualan nasi, tapi baru sekarang saya tak
bisa menyajikan orek karena tempe menghilang dari pasar tiga
hari ini," kata Mu'min, pemilik Warung Nasi Ojo Lali, yang
berlokasi di Jalan Melati, Kelurahan Cengkareng Barat,
Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.

Ketika kerusuhan Mei 1998, menurut dia, tempe dijatah,
masing-masing cuma dapat lima bantal tempe.
"Zaman perang, zaman Bung Karno, zaman geger G30S, zaman Pak
Harto, enggak pernah tempe sampai hilang seperti sekarang,"
katanya.

Kebetulan warungnya mengandalkan tiga menu, orek, soto betawi,
dan bakwan udang.
Setiap hari warungnya yang buka pada pukul 10.00-20.00
menghabiskan antara lain tempe 15 bantal, tahu besar 15 potong,
tahu kuning 30 potong, beras setengah kuintal, dan minyak
tanah 30 liter.

Karena menu orek absen, jumlah pelanggannya tiga hari
belakangan berkurang, dari sekitar 250 orang setiap harinya
menjadi 100 orang.

"Menu lain boleh mewah, tapi enggak laku kalau enggak ada orek.
Ambil orek dulu, baru menu tambahan lainnya," ucap Mu'min.

"Padahal sebenarnya, meski dengan harga tinggi, kalau
tempenya ada, pasti saya beli karena pelanggan saya tidak
keberatan harga orek naik," katanya menambahkan.

Mu'min berniat menutup warungnya kalau produk tempe dan tahu
menghilang lebih dari seminggu, atau jika harga minyak tanah
mencapai Rp 7.000 per liter.
"Semua pemilik warteg pasti punya niat yang sama dengan saya,"
tuturnya
  
Logged
Pages: [1]   Go Up