Indonesian Automotive Community

Please login or register.

Login with username, password and session length
Advanced search  

News:

Daftarkan diri Anda terlebih dahulu sebelum posting ke forum.

Pages: [1]   Go Down

Author Topic: Kerja di Permatabank = neraka  (Read 8177 times)

indoroids

  • Guest
Kerja di Permatabank = neraka
« on: February 04, 2008, 08:45:58 AM »

  
Logged

indoroids

  • Guest
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #1 on: February 04, 2008, 08:48:32 AM »

Logged

indoroids

  • Guest
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #2 on: February 04, 2008, 08:49:06 AM »

Perjanjian Kerjasama atau pemerasan?
Hal yang paling keterlaluan adalah diposisikannya PermataBank sebagai pihak yang membayar lebih banyak apabila terdapat biaya-biaya terkait transaksi.   Hal ini diatur secara lebih terinci di dalam perjanjian-perjanjian pelaksanaan transaksi.  Sebagai contoh, cobalah membaca Perjanjian Kerja Sama mengenai Manhattan Card.   Dari situ Anda akan mengetahui kalau PermataBank menjadi bulan-bulanan SCB!   Kendati di dalam BCA terdapat klausula bahwa pihak yang tidak sepakat dengan biaya transaksi (diistilahkan dengan "Nilai Pasar Wajar) berhak meminta pendapat dari penilai harga independen, kecil kemungkinan PermataBank akan memanfaatkan hak ini.   Kenapa?  Karena PermataBank sudah menjadi "Permata SCB".  PermataBank sudah dikuasai oleh SCB dan terkonsolidasi ke SCB!  Mana berani Direktur Utama PermataBank yang berasal dari SCB menolak permintaan SCB.   
 
Dalam hal transaksi bersifat asistensi, PermataBank lah yang diharuskan berguru kepada SCB.  Apakah akan berlaku sebaliknya, SCB meminta asistensi kepada PermataBank?  Tidak.   Karena sejak awal SCB sudah menyatakan diri sebagai bank berskala internasional, sehingga merasa berhak mengajari PermataBank dengan international best practice supaya lebih gaul di pasar global.  Hal ini sejalan dengan pernyataan Steward Hall dalam banyak kesempatan pertemuan dengan karyawan bahwa SCB akan membantu PermataBank meningkatkan benefit sehingga bisa menjadi bank dengan jaringan global.   
 
Keterlaluan!  PermataBank dianggap inferior oleh SCB hanya gara-gara berskala operasi nasional.  Padahal PermataBank adalah bank yang terpandang di Indonesia dengan prestasi dan keunggulan yang sudah terbukti.   Bahkan dalam banyak hal justru lebih unggul daripada SCB sendiri.  Lantas, apakah SCB tidak mau belajar dari PermataBank?  Sebetulnya SCB sudah belajar dari PermataBank, tetapi dengan cara mencuri-curi!   Pada saat Tim SCB melalukan Peer Review, mereka mencatat praktik-praktik operasional a la PermataBank yang dapat diterapkan di SCB.  Berkedok sedang melakukan review, SCB sebenarnya sudah menangguk ilmu dari PermataBank tanpa harus membayar biaya asistensi.   Justru PermataBanklah yang mengongkosi SCB!
 
 
Pemalakan
Biaya-biaya tinggi yang timbul selama pengelolaan PermataBank oleh SCB sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan BCA.  Marilah kita lihat contoh-contohnya.
 
Manhattan Card .  SCB mempunyai produk Manhattan Card yang ditargetkan untuk ratusan ribu calon pemegang kartu redit.   Karena jumlah nasabah PermataBank jauh lebih banyak daripada nasabah SCB Indonesia dan distribution channel PermataBank sangat luas, SCB mengalihkan launching dan marketing Manhattan Card ke PermataBank.   
 
Apa yang diperoleh PermataBank dari bisnis ini? Tiada lain kecuali kerugian!   Pertama, PermataBank dipaksa memasarkan kartu kredit yang bukan produknya sendiri dan di pasar akan menjadi pesaing bagi produk PermataBank Visa dan Master Card.   Kedua, meskipun ikut memperoleh bagian dari annual fee dan interest income, PermataBank harus membayar ratusan juta Dollar joint fee atas keikutsertaannya mendagangkan Manhattan Card.   Ketiga, peluncuran Manhattan Card dengan acara yang gebyar-gebyar menelan biaya milyaran Rupiah ditanggung oleh PermataBank.   Keempat, bisnis Manhattan Card ternyata gagal menarik minat nasabah alias tidak laku sehingga berhenti dipasarkan;   Alih-alih menangguk laba, PermataBank malah menanggung rugi karena "belum balik modal".   Belum lagi soal reputasi PermataBank karena memasarkan produk gagal.  Kelima, semua aktivitas dalam rangka memasarkan Manhattan Card mendompleng infrastruktur dan tenaga kerja PermataBank, tentu plus duitnya pula.  Ratusan tenaga kerja outsource direkrut khusus untuk urusan Manhattan Card ini.   Keenam, SCB masih meminta jatah fee dari nilai account payable   padahal  sudah mujur produknya dipasarkan oleh PermataBank. Ketujuh, kalau penjualan Manhattan Card sampai gagal, SCB akan melego hak franchise yang semula dipegang oleh PermataBank kepada pihak lain (jangan-jangan PermataBank juga harus membayar denda!).   Lihat, betapa SCB selalu bisa mencari untung, sementara PermataBank yang kebagian buntung!
 
Joint Audit .   Beralasan untuk membangun sinergi, SCB getol membuat kegiatan yang bernama joint ini atau joint itu, misalnya Joint Audit.  Tentang Joint Audit, belum lama ini sekelompok auditor dari SCB datang ke PermataBank.   Bersama dengan auditor intern mereka melakukan pemeriksaan secara menyeluruh ke unit-unit kerja dan menghasilkan banyak temuan.   Yang keterlaluan, temuan-temuan tersebut tidak merujuk kepada peraturan Bank Indonesia atau kebijakan/prosedur PermataBank, tetapi kepada kebiasaan yang dilakukan oleh SCB!  Lebih keterlaluan lagi, para Direktur dan General Manager dikejar-kejar deadline untuk menindaklanjuti rekomendasi atas temuan tersebut.  Alhasil para GM bahkan Direktur menjadi kelabakan sendiri, seolah-olah mereka itu memang melakukan kesalahan karena tidak menuruti aturan SCB.   Padahal mereka sama sekali tidak melanggar ketentuan internal maupun peraturan BI!    Ini namanya imperialisme gaya baru.  SCB sudah menerabas teritori.   Ingat, Permatabank dan SCB adalah 2 entitas yang berdiri sendiri-sendiri.   
 
Pada kegiatan Joint Audit tempo hari, auditor PermataBank lebih berperan sebagai pendamping dan Auditor SCB lah yang mendominasi.   Pada akhir acara, Rp 120-an juta ditagih oleh SCB ke PermataBank untuk ongkos akomodasi dan transportasi.  Jangan heran, karena semuanya sudah diatur di dalam BCA!   Lantas kapan auditor PermataBank bisa gantian mengaudit SCB?  Kata Koes Plus, "Kapan ... Kapan ..."
 
Menyusul Joint Audit akan ada lebih banyak lagi bentuk-bentuk kegiatan bersama untuk kepentingan SCB tetapi dibayar oleh PermataBank; misalnya Joint Operation (menggunakan CBO PermataBank untuk menangani transaksi milik cabang SCB di Indonesia), Treasury Online (menghubungkan sistem di Dealing Room PermataBank dengan SCB), Joint Credit Operation (mengkombinasikan credit operation PermataBank dan SCB), Joint Card Production (meng-outsource-kan pembuatan credit card SCB ke PermataBank), ATM Direct Connection (menyambungkan ATM SCB di Singapore dan ATM Permatabank sehingga transaksi di-route secara langsung ke PermataBank bukan melalui Visa!) dan masih banyak lagi.   Timbang-timbanglah sendiri untung ruginya.
 
Peer Review.  SCB menganggap dirinya bank yang sarat keunggulan karena pengalamannya selama ratusan tahun sebagai bank tingkat internasional.   Oleh karena itu, SCB merasa diri perlu menaikkan derajat PermataBank yang selama puluhan tahun cuma berkutat di pasar domestik.   Caranya adalah dengan melakukan review atau technical assistance.  Seolah-olah PermataBank ini adalah bank yang terbelakang sehingga para karyawannya harus diajari banyak hal supaya bisa lebih maju.   Padahal, kembali ke Laporan Keuangan 2005, secara kasat mata bisa dilihat bahwa pengelolaan oleh SCB justru menghasilkan kemerosotan.
 
Banyak unit kerja yang sudah di- review oleh tim dari SCB.  Sebut saja CBO, Trade Finance, Treasury, Treasury & International Operation, Corporate Legal, IT dan Human Resources.   Dalam acara review, tim SCB memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk perbaikan.   Namanya rekomendasi, seharusnya bisa dituruti bisa juga dikesampingkan.   Yang dapat dijalankan tak ada salahnya diterapkan, sementara yang mengada-ada diabaikan saja. Nyatanya, semua rekomendasi seperti bersifat paksaan, sehingga mau tidak mau harus dilaksanakan.   Bisa dimengerti, karena jika tidak dilaksanakan maka SCB akan sulit mengintegrasikan "cara main" SCB ke sistem PermataBank.  Ini adalah embrio merger atau akuisisi, sejalan dengan sangat bernafsunya SCB meraup semua saham PermataBank yang saat ini masih dimiliki oleh Pemerintah Indonesia.   Jadi perlu diwaspadai! 
 
Seperti halnya Joint Audit , kegiatan review juga bukan gratisan.  Sebagaimana diatur di dalam BCA, setelah "dibikin pintar" PermataBank harus membayar semua ongkos hotel, makan siang malam dan transportasi para konsultan.   "Siapa sih yang nyuruh mereka datang kemari.  Kita kan gak ngundang?  Tanpa mereka ajaripun, kita gak ada masalah kok.  Enak aja mereka tiba-tiba datang, tahunya minta bayaran!" keluh seorang karyawan yang kesal.   Benar.  Soal kedatangan tim SCB itu tidak ada unit kerja atau GM yang mengundang.   Tetapi apa daya.  Dengan BCA, apapun bisa dilakukan oleh SCB.   Bisa diduga bahwa yang merestui kedatangan tim SCB adalah Direktur Utama PermataBank yang mantan CEO SCB Jakarta itu.
 
 
BCA tentang Biaya
Membengkaknya Beban Administrasi Umum hingga menjadi Rp 655 Milyar tak pelak lagi banyak disebabkan oleh timbulnya biaya-biaya dari transaksi-transaksi yang tercantum di dalam BCA.   Jenis transaksi apa saja yang tercantum di dalam BCA akan diinformasikan pada buletin berikutnya.  Hal ini ada baiknya karena para karyawan PermataBank perlu mengamati terlebih dahulu kegiatan di tempat kerjanya masing-masing.   Dengan demikian mereka akan mengetahui transaksi-transaksi apa saja yang dipaksakan oleh SCB untuk dijalankan.  Setelah itu, mereka bisa mengkonfirmasikannya dengan melihat daftar transaksi pada buletin mendatang.
 
Tetapi tidak ada salahnya kalau diinformasikan sekilas mengenai "Transaksi Jenis B", yaitu semua transaksi yang disebut sebagai " Technical Assistance".  Ingat, karena perbedaan kasta global internasional dengan domestik lokal, SCB lah yang memberikan asistensi ke PermataBank.   Sambil memberikan technical assistance sebenarnya SCB mengambil manfaat dari keunggulan PermataBank untuk kepentingan bisnisnya.    Jangan terkecoh dengan jargon simbiosis mutualisma PermataBank dan SCB sama-sama untung.   Dari sisi kedua belah pihak saling mendapat "ilmu" mungkin masih bisa diterima.   Tetapi kalau selain memperoleh ilmu SCB juga diongkosi oleh PermataBank, apakah masih sama-sama untung namanya?!
 
Technical assistance juga merupakan cara untuk mengintegrasikan metode operasional SCB ke PermataBank.   Dengan demikian, secara instan PermataBank dapat menangani transaksi milik SCB dengan cara SCB.  Kalau sudah begitu, jalan menuju merger atau akusisi menjadi semakin mulus.   Tinggal menunggu waktu, wasalam PermataBank!
 
Inilah beberapa beberapa contoh yang disebut sebagai "Technical Asistence ".
 
(1)   Peluncuran Manhattan Card via PermataBank (yang sudah terbukti kerugiannya!)
(2)   Financial Reporting Enhancement, menggunakan metode SCB untuk membawa PermataBank menuju best practice pembuatan laporan (padahal tujuannya adalah merombak metode pelaporan PermataBank agar match dengan metode pelaporan SCB)
(3)   Penerapan Assets & Liabilities Management (ALM), Balance Sheet Management dan ALCO (padahal metode Funds Transfer Pricing/FTP bikinan SCB membuat pricing untuk loan komersial terlalu tinggi sehingga rate yang ditawarkan kepada nasabah menjadi terlalu tinggi   pula; Bagaimana loan kita bisa menarik minat nasabah?)
(4)   Risk Scoring Behavioral Analitics, SCB membagi pengetahuan dan keahlian untuk meningkatkan kemampuan PermataBank mengelola risiko likuiditas (padahal di bawah pengelolaan SCB, Treasury sering mengalami "kebocoran" likuiditas; apalagi sebagai Value Center, Treasury lebih cenderung senang berdagang daripada menjaga likuiditas)
 
Semua technical assistance yang belum tentu berguna bagi PermataBank tersebut ada biayanya.   Di dalam BCA disebutkan bahwa pembayaran biaya tersebut dimaksudkan untuk memberi ganti rugi atau mengganti jumlah ongkos, beban dan pengeluaran lainnya.   Selain ada biaya-biaya langsung untuk akomodasi dan transportasi, masih ada  lagi biaya konsultan.  Biaya konsultan ini dapat dikemas menjadi bentuk lain,   misalnya joint fee.  Ingin tahu berapa besarnya?  Beberapa contoh dapat diungkapkan di sini.   Untuk peluncuran Manhattan Card ditarik USD 299,000; untuk Business Instalment Loan ada biaya USD 273,250; untuk Treasury Support dikenai ongkos USD 400,000; untuk Mortgage One ada biaya USD 262,500; untuk Financial Reporting Enhancement ditarik USD 162,000 dan untuk Risk Scoring Behavioral Analytics dikenai ongkos USD 175,000. 
 
Ada rencana SCB untuk menerapkan Rekening Antar Perusahaan (RAP), semacam Inter Office Account ,  sebagai settlement account untuk biaya-biaya terkait transaksi.  Melalui mekanisme ini, SCB dapat leluasa mendebet RAP - PermataBank. 
 
Logged

indoroids

  • Guest
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #3 on: February 04, 2008, 08:49:40 AM »

Logged

bhatozai

  • Tukang Ojek
  • *
  • Reputation: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 23
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #4 on: April 16, 2008, 06:04:10 PM »

waduhh..panjang amat artikel nya..... ^_^
Logged

Kang Nunu a.k.a Sphere

  • Global Moderator
  • Supir Pribadi
  • *****
  • Reputation: 8
  • Offline Offline
  • Posts: 946
  • In The Mercy of God
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #5 on: April 17, 2008, 03:34:28 PM »

Tentang aja bro bhatozai, selama kita kerja sama orang laen... yang pasti selalu neraka...   :angel: Kecuali si bro m0k0 kerjanya tiap hari maen game online di kantornya...   :smitten:
Logged
Hati-hati! ForumOtomotif.com dapat menyebabkan kecanduan.
Gunakan sesuai dosis dan baca aturan pakai...

PiaL

  • Premium Member
  • Joki Balapan
  • *******
  • Reputation: 9
  • Offline Offline
  • Posts: 1,230
  • Never Give Up !!!
    • PiaL's World
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #6 on: April 17, 2008, 03:49:05 PM »

jadi inget frase "if you want to get it like what you want, then do it yourself"  -_-
Logged


:ph34r: drive safely everyone :ph34r:

m0k0_ginta

  • Premium Member
  • Supir Pribadi
  • *******
  • Reputation: 15
  • Offline Offline
  • Posts: 881
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #7 on: May 07, 2008, 01:30:05 PM »

Tentang aja bro bhatozai, selama kita kerja sama orang laen... yang pasti selalu neraka...   :angel: Kecuali si bro m0k0 kerjanya tiap hari maen game online di kantornya...   :smitten:

Wakakaka...
Iya Kang kalau dulu... emang kerjanya Main doank... soalnya jaga server counter strike...
kalau sekarang udah lama ngga main game.. habis modalnya gede kalau mau main game... soalnya kalau main disini tetep bayar...
Logged
Is not what we ride but how we ride it!

PiaL

  • Premium Member
  • Joki Balapan
  • *******
  • Reputation: 9
  • Offline Offline
  • Posts: 1,230
  • Never Give Up !!!
    • PiaL's World
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #8 on: May 07, 2008, 04:59:12 PM »

lho kan pegawai !? boleh donk harusnya maen gratis  :wacko:
Logged


:ph34r: drive safely everyone :ph34r:

Kang Nunu a.k.a Sphere

  • Global Moderator
  • Supir Pribadi
  • *****
  • Reputation: 8
  • Offline Offline
  • Posts: 946
  • In The Mercy of God
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #9 on: May 07, 2008, 05:01:07 PM »

Kayanya udah pindah kerja...
Logged
Hati-hati! ForumOtomotif.com dapat menyebabkan kecanduan.
Gunakan sesuai dosis dan baca aturan pakai...

m0k0_ginta

  • Premium Member
  • Supir Pribadi
  • *******
  • Reputation: 15
  • Offline Offline
  • Posts: 881
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #10 on: May 08, 2008, 05:37:01 PM »

Belum Bro... Masih di Game net.. tapi kalau disini karyawan mau main tetep bayar.... dulu sih emang kecanduan main game online.... Laghaim, trus Xian, pindah lagi ke Tantra... sekarang jadi males habis kebanyakan game online sih...
Logged
Is not what we ride but how we ride it!

PiaL

  • Premium Member
  • Joki Balapan
  • *******
  • Reputation: 9
  • Offline Offline
  • Posts: 1,230
  • Never Give Up !!!
    • PiaL's World
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #11 on: May 08, 2008, 07:28:34 PM »

sekarang kecanduan apa donk ?  ;D
Logged


:ph34r: drive safely everyone :ph34r:

m0k0_ginta

  • Premium Member
  • Supir Pribadi
  • *******
  • Reputation: 15
  • Offline Offline
  • Posts: 881
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #12 on: May 09, 2008, 04:16:35 PM »

Kecanduan modif....
Logged
Is not what we ride but how we ride it!

senoaji

  • Supir Taksi
  • ***
  • Reputation: 1
  • Offline Offline
  • Posts: 262
  • Lakukan saja!!!!!!!
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #13 on: June 22, 2008, 10:07:47 AM »

kerja aja, selama digaji. kecuali tidak digaji hehehe.
Logged

noeg

  • Supir Taksi
  • ***
  • Reputation: 7
  • Offline Offline
  • Posts: 262
Re: Kerja di Permatabank = neraka
« Reply #14 on: August 07, 2008, 10:28:37 AM »

lagian, nggrundel koq disini....
Logged
Pages: [1]   Go Up